Archive | February 2016

Mengunjungi London (Storbritannia)

 

image

Big Ben di pagi hari

Kita memutuskan untuk mengunjungi London atau Storbritannia kalau dalam bahasa norwegia. Waktu itu bertepatan dengan waktu menjelang natal, jadi sekalian window shopping atau sekedar membeli pernak pernik kecil untuk sanak famili, walaupun di sini sangat tidak umum atau tidak biasa untuk membeli oleh-oleh untuk keluarga atau teman-teman kerja saat setelah berlibur. Yang mereka tunggu-tunggu adalah cerita pengalaman saat kita berlibur. Itu yang lebih berharga dari sekedar menanyakan oleh-oleh.

imageBagi gw yang masih warga negara RI, harus membuat visa untuk supaya bisa berlibur ke UK karena UK tidak masuk dalam schengen. Proses pembuatan visa tidaklah rumit. Menurut orang-orang kalau kita punya kerjaan tetap di sini, visa ke UK bisa cepat didapat. Namun biaya visa sangat tidak murah. Waktu itu gw harus merogoh kocek sekitar 2100 nok (pengajuan visa di bulan oktober 2015). Cukup datang ke konsulat UK di Oslo. Sebelumnya sudah mendaftar online di website dan mengisi formulir yang gw bilang ribet banget. Proses mendapatkan visa hampir sama dengan saat kita mengajukan visa ke negara lain. Daftar dulu, nanti kemudian dapat jadwal interview atau penyerahan dokumen-dokumen yang diperlukan, dan terakhir sidik jari dan foto. Gak kurang dari 10 hari kerja, visa sudah bisa diantar langsung oleh DHL ke alamat rumah kita atau bisa diambil di Narvesen terdekat dengan menunjukan data diri kita.

Untuk urusan tempat menginap di London, kita memutuskan untuk menginap di hotel yang tidak jauh dari Underground / stasiun subway kalau gak salah di sekitar Westminster Borough (kurang lebih 15 menit naik Underground ke Marble Arch. Ternyata bicara tentang rate hotel (bintang 1, 2 , 3 dst) di London, menurut kami sangatlah tidak sesuai dengan rate atau bintang yang ada di situs pencari hotel. Hotel bintang 4 di London jangan harap memimpikan sarapan ala bintang 4 sebenarnya. Kita sedikit kecewa karena ternyata fasilitas yang kita dapatkan tidak sesuai dengan harga yang sudah kita bayar. Sempat protes karena kasur yang keras, dan untungnya dengan cepat diganti kasur yang lebih empuk.

Empat hari di London sangatlah singkat dan padat jadwal. Seperti biasa, gw yang menyusun rencana mau kemana nanti kita di London. Suami ikutan andil juga siy tapi dia lebih tertarik ke tempat-tempat bersejarah tentunya. Kalau gw ayooo aja, mau ke museum juga tarikkkk mang, mau ke Oxford street mauuuuuu bangeeetttt, karena di sana pusatnya window shopping.

Hari pertama sampai di Heathrow kita langsung naik heathrow ekspres. Tiket PP sudah dibeli online jadi kita gak ribet antri beli tiket. Stasiun terdekat yaitu Paddington. Tinggal jalan kaki sampailah kita di hotel. Waktu itu sempet kegirangan nemu KFC dan kita langsung makan siang di situ. Sayang banget tempatnya rada kumuh kalau menurut pendapat kita KFC di Indonesia kayanya lebih bersih, ayamnya lebih enak dan kriuk-kriuk. Setelah istirahat sejenak di hotel dan kemudian kita langsung menuju Imperial War museum (IWM) dengan menggunakan U (underground/subway). Tiket masuk gratis dan di sana kita bisa melihat koleksi peninggalan jaman perang dunia pertama. Dari mulai mobil tank sampai galeri foto. Saat itu ada pameran foto dengan tema “Lee Miller”.

Tips: sebaiknya membeli visitor oyster card sebelum berangkat. Waktu itu kita membeli tiket 30 GBP untuk 3 hari. Sangat ekonomis dan hemat waktu mengantri. Tinggal tempel di mesin saat kita mau naik subway dan saat kita keluar dari stasiun.

Malamnya kita jalan-jalan menyusuri Oxford street dan tentunya melihat Big Ben di malam hari. Sayangnya waktu itu hujan lumayan deras jadi kita memutuskan pulang setelah makan malam di steak house di sekitar Oxford street. Mau sedikit kasih review tentang restaurant dan makanannya. Tempatnya ramai banget dan hampir semua kursi penuh, sedikit hingar bingar dan pengunjung yang mondar-mandir. Kalau mau di bandingkan, kayanya lebih berasa makan steak di Big Horn di Aker Brygge Oslo. Dari mulai harga dan kualitas serta lokasi. Tapi namanya liburan kan mencoba suasana baru dan tentunya mencari pengalaman baru. Jadi enjoy aja….

imageHari kedua kita jalan-jalan ke Big Ben dan Westminster Abbey. Selanjutnya kita naik Coca-cola London eye. Dari atas kereta gantung dengan ketinggian 130 meter yang bisa di isi kurang lebih 15 orang dewasa (waktu itu cuma di isi 6 orang dewasa) kita bisa melihat pemandangan sekitar Big Ben, Westminster Abbey selama 30 menit. Dari sana langsung kita menuju Buckingham Palace untuk sekedar melihat-lihat dan tidak jauh dari Buckingham palace terdapat sebuah taman yang biasanya Lady Diana menghabiskan waktu di pagi hari untuk jalan-jalan sekedar menyusuri taman.

imageKemudian kita ke London’s National Gallery yang berlokasi di Trafalgar Square. Di sana kita bisa melihat koleksi-koleksi karya Van Gogh, Leonardo da Vinci dan Rembrandt . Waktu itu pohon natal di Trafalgar square belum di pasang. Konon pohon natal tersebut berasal dari Norway yang langsung dikirim ke London. Dari stasiun terdekat Trafalgar Square kita naik bus susun yang menjadi icon London, dan memilih tempat duduk di atap supaya bisa melihat lebih jelas suasana kota London.

image

Hari ketiga kita ke Madame Tussaud London. Kita menyempatkan diri melihat patung-patung tokoh ternama yang terbuat dari lilin. Suami sempat berselfie ria dengan Kim Kadarshian dan gw berpose mesra bersama George Clooney. Setelah kurang lebih 1 jam kita di sana, perjalanan dilanjutkan ke Emirates Stadium. Sebenarnya gw dan suami bukan pecinta sepak bola, tapi dulu gw sempat nge fans sama Arsenal dan dulu gak pernah bermimpi sama sekali bisa menginjakkan kaki langsung di stadion tempat para juara Arsenal bertanding. Waktu itu kita membeli tiket “Arsenal stadium tour & museum” dengan self-guided audio tour. Cukup menarik dan berkesan sambil membayangkan saat para juara beraksi di rumput hijau.

imageimage

Dari Arsenal stadion kita kembali lagi ke pusat kota dan kita sudah mulai merasakan lapar. Waktu menunjukkan jam 17.30 dan saatnya jadwal makan malam. Kita memutuskan untuk duduk sejenak di kedai makan di Borough Market yang berlokasi tidak jauh dari The Shard. Borough market berlokasi di bawah jembatan, yang jauh dari kesan kumuh atau tidak terawat. Di sana kita bisa menemukan makanan dari berbagai negara. Beberapa kedai makanan menjual makanan organik dan produk-produk lokal tentunya. Kita memesan fish and chips yang menjadi makanan khas a la British. Setelah kenyang, kita melanjutkan perjalanan mengunjungi The Shard (London’s highest viewing platform dan gedung tertinggi di Eropa Barat) yang sangat menakjubkan. Dari lantai dasar kita di bawa oleh seorang tour guide menuju lift yang berkecepatan kurang lebih 6 mtr per detik. Tibalah kita di lantai 69 dimana lantai tertinggi adalah lantai 72. Dari lantai 69 kita bisa menaiki tangga manual menuju lantai 72. Dari puncak The Shard kita bisa melihat pemandangan Kapal Belfast, London eye dan Tower bridge. Bagi yang berminat bisa memesan segelas champagne sambil menikmati suasana saat matahari mulai terbenam yang tentunya akan mebawa kesan romantis. 🙂

Waktu itu kita kurang beruntung karena tidak sempat mengunjungi Kapal HMS Belfast dimana suami sudah memimpikan sejak kita berencana untuk mengunjuni London. Untuk mengobati rasa kecewa, kita hanya bisa melihat dari luarnya saja. Sebagai gantinya kita jalan-jalan menyusuri Tower Bridge di malam hari. Waktu itu ada peluncuran apartemen yang terletak di sebelah Tower Bridge dan sales nya berpakaian a la wanita kerajaan Inggris dan berjalan-jalan disekitar Tower Bridge. Lumayan menarik untuk dilihat sebelum kita memutuskan kembali ke hotel.

image

Hari terakhir kita isi dengan window shopping mulai dari Marble Arch sampai ke Oxford Street. Jam 13 saatnya kita bergegas menuju Heathrow untuk kembali pulang ke Oslo. Empat hari di London lumayan menyegarkan kembali otak dan jasmani untuk kembali menghadapi musim dingin sampai di bulan maret.

image

Suasana di Oxford Street

image

Borough Market (The Shard ada di background belakangnya)