Archive | June 2015

Amsterdam dan Alkmaar

imageimage image image image

Liburan musim semi kami tahun ini adalah jalan-jalan ke Amsterdam. Sebenarnya sudah direncanakan dari tahun kemarin. Gw udah kepingin banget ke Keukeunhof. Eh ternyata kesampaian juga. Dengan berbekal tiket murah KLM berangkatlah kami berdua. Kita lebih suka terbang dengan pesawat paling pagi supaya bisa lebih puas jalan-jalannya. Tapi….dengan resiko kita juga harus bangun jam tiga pagi. Waktu itu kita naik bus ke airport jam setengah lima pagi. Bayangin kan…jalanan masih sepi tapi karena sudah masuk musim semi, jadi langit sudah mulai terang. Di bus kita masih ngantuk-ngantuk, untung gak lama sekitar 30 menit sampailah kita di Gardermoen. Di airport kita langsung ke mesin check in otomatis dan menuju counter KLM. Ternyata…setelah sampai di counter check in, kita disuruh bayar bagasi yang akan di bawa terbang. Hmmmmm….ini pertama kali kita terbang dengan KLM di wilayah Eropa. Gw kan sok teu waktu pas beli tiket ga mikir ke arah bagasi karena gw pikir harga segitu sdh termasuk bagasi, sama seperti kalau kita ke Indonesia dari Oslo harga tiket sudah termasuk bagasi 23 kg. Bayarlah suami untuk tas dia yang akan masuk bagasi. Kalau gw cuma bawa satu koper kecil jadi gak perlulah beli ekstra ba gasi. Untung petugasnya baik banget, dia kasi taw kita supaya beli ekstra bagasi untuk perjalanan kembali ke Oslo. Lumayan harga lebih murah 50%.

Jam 8 pagi kita sdh sampai di Schipol. Karena masih rada ngantuk dan kita butuh kopi yang nendang banget supaya melek. Duduk manislah dulu kita ngopi nyookkkkk sambil liat-liat suasana airport di Amsterdam di pagi hari.

Keluar dari airport disambut dengan cuaca yang cerah secerah hati dan fikiran gw. :-). Dari airport kita langsung menuju platform 12 dimana bus nomor 197 yang menuju Leidseplein mangkal di situ. Sebelumnya kita mampir Holland Tourist Information dulu untuk beli tiket bus dan tiket masuk Keukeunhof (combi ticket). Bus nomor 197 cukup nyaman dan on time tentunya. Kita turun di Leidseplein terus dilanjutkan naik tram nomor 10 menuju Azartplein. Ternyata di Amsterdam itu kalau kita naik bus, kereta dan tram naik dan turun harus di scan tiketnya. Kalau kita biasa di sini hanya pas mau naik baru scan tiket. Buat gw ini nyusahin banget karena kebiasaan jelek gw kalau sudah scan, tiket gw taruh entah di mana.

Selama di Amsterdam kita nginep di Hotel V Frederiksplein. Hotelnya bersih, dan nyaman juga strategis. Jadi begitu kita turun dari tram langsung deh kelihatan hotelnya. Tadinya pingin banget nginep di Coco Mama tapi sayang di sayang sudah pull. Sampai di hotel belum tiba waktunya check in, jadi kita cuma registrasi dan nitip koper. Trus kita meluncur deh ke Bloemenmarkt alias pasar kembang. Karena kita sudah punya tiket terusan 24 jam, jadi kita naik tram yang menuju Centraal Station trus turun di Rembrandtplein. Dari sana kita sudah bisa liat di mana pasar bunganya ada di mana, karena hampir semua turis kalau gak ke Bloemenmarkt yah ke Delft Keramik. Pasar padat merayap, disamping banyak pengunjung yang kepingin foto-foto dengan background bunga-bunga yang cantik, banyak juga yang keluar masuk toko untuk sekedar melihat-lihat dan membeli souvenir khas Amsterdam. Pingin banget rasanya beli tulip yang banyak atau apa lah yang bisa di tanem…upsss…tapi kecuali Canabis yah…kaga beli deh kita. Di situ dijual juga paket lengkap canabis siap tanam. untuk syarat-syarat bisa beli paket lengkap itu gw kagak taw. Gw cuma beli beberapa tulip dari Aviflora yang di kardusnya ada tulisan “with health certificate for USA & Canada date of issue 16 april 2014”. Sebelumya mertua gw sudah kasih taw ada syarat2 membeli tulip atau bibit bunga yang bisa di bawa masuk ke Norway. Trus gw cek di internet ternyata betul. Maksimum kita besi beli bulbs atau yang lain sekitar 3 kg. Syarat-syarat yang lain bisa di cek di google.

Di Bloemenmarkt ada restoran Indonesia. Namanya Restoran Nusantara. Tapi saat kita ke sana restoran masih tutup. Tapi sempet liat-liat menu yang disajikan dari brosur yang di tempel di jendela. Setelah cukup puas melihat-lihat, kita pulang ke hotel untuk check in. Perjalanan pulang ke hotel kita lanjutkan dengan jalan kaki, disamping pingin lihat-lihat jalanan sekitar juga udah kepingin ngopi lagi dan makan siang. Untuk harga makanan di Amsterdam lebih murah dibanding harga makanan di Oslo. Di sepanjang jalanan Rembrandtplein banyak yang jual waffel dan french fries atau kentang goreng yang antreannya lumayan panjang.

Sampai di hotel, kita selonjoran dulu yeee sambil mikir mau kemana lagi kita. Suami yang pegang peta. Kalau gw uda nyatet dari rumah rincian mau kemana aja kita selama di Amsterdam. Setelah beristirahat sejenak, kita langsung bergegas menuju Rijksmuseum dan Van Gogh Museum dan tentunya Heineken. Hari itu kita jadwalnya padat merayap alias marathon juga. Gak terasa sudah jam 7 malem coy, waktunya makan malam dunk. Kita memutuskan untuk mencoba makanan yang disajikan di Restoran Indonesia Tujuh Maret yang terletak di Utrechtsestraat 73. Restoran terletak di daerah yang gw bilang keren banget, banyak tempat nongkrong juga, pokoknya unik menurut gw. Di sebelah restoran tujuh maret, ada restoran indonesia juga. lokasinya tepat bersebelahan, namanya Tempo Doeloe. Di Belanda asik banget deh bisa makan makanan indonesia dengan puas. Di dalam restoran disajikan musik dangdutnya Mbak Uut dan tante Rita Sugiarto, pokoknya berasa makan di warteg banget deh. Kalau bisa goyang, goyang niy gw…jadi sambil makan, kaki goyang-goyang karena gak bisa goyang badan. Lokasi dan situasi tidak memungkinkan. hahahahah….Di sana gw makan nasi rames komplet dan suami gw pesen nasi opor ayam. Minumnya teh panas sayangnya gak ada teh botol sosro. Pokoknya kenyaaaaang banget dan puas sampai gak bisa bangun. Untuk masalah harga kayanya standar deh untuk harga makanan di wilayah tersebut. Satu porsi sekitar 18-20 Euro dan minum sekitar 2 euro, tergantung minumnya apa juga siy.

Karena sudah kekenyangan, jadi kita memutuskan untuk jalan kaki kembali ke hotel sambil liat-liat suasana Amsterdam di malam hari. Hmmmmm malam minggu…karena masih sore, jadi kita memutuskan untuk jalan-jalan menyusuri Bijenkorf dan Klaverstraat. 

Keesokan harinya kita memutuskan ke Alkmaar. Cuaca hari itu kurang bagus, hujan rintik-rintik dan angin masih semilir dingin, tapi tidak sedingin di OsloDari Centraal station kita naik kereta yang menuju Den Helder di platform 8a. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 30 menit menuju Alkmaar. Cheese market adalah salah satu tujuan utama turis datang berkunjung ke Alkmaar. Tetapi karena hari itu hari minggu, jadi pasar tidak ada. Museum pun tutup. Dari stasiun kereta di Alkmaar kita jalan kaki menuju pusat kota. Meskipun jalanan basah karena gerimis, tidak memupuskan harapan kita untuk bisa menikmati suasana yang jauh dari keramaian kota. Toko-toko mulai buka jam 12 siang, beberapa kedai kopi sudah mulai buka mungkin dari pagi. Amsterdam terkenal dengan kanal-kanalnya. Jadi sepanjang jalan di Alkmaar pun kita pasti ketemu dengan kanal-kanal. Salah satu tempat yang kita kunjungi di Alkmaar adalah “Tot Ziens In De Oude Stad” adalah tempat di mana banyak dijual barang-barang kesenian ataupun yang unik dan langka. Bangunan-bangunan tua yang bercat kuning muda dan tembok berwarna coklat menghiasi jalanan sempit di Alkmaar. Tak lupa juga sepeda yang diparkir di sepanjang jalan turut meramaikan suasana hari minggu di Alkmaar. Sebelum memutuskan untuk menuju stasiun kereta, kita mampir ke kedai kopi lokal yang menjual pannekaker dan makaron yang mungil dan manis. Hmmmmm….melihat menunya, rasanya sudah tidak sabar pingin mencomot si mungil makaron. Ini makan siang atau cuma ngemil…judulnya enjoy aja! 🙂

Untuk wisata kulinar di hari kedua di Amsterdam, kita kepingin banget makan malam di restoran Argentina. Suami yang google deh di mana kita bisa makan malam ala Argentina. Namanya La Cantina. Restoran ini unik banget dalamnya, jadi setiap meja namanya berbeda-beda berdasarkan kota-kota yang ada di Argentina. Waktu itu kita memilih untuk duduk di meja “Mendoza”. Sayang kita tidak datang di malam sabtu atau malam minggu yang katanya si pemilik restoran ada dansa tango. Steak rib eye nya enak banget dan Cabernet Sauvignon dari Mendoza adalah pasangan yang paling tepat. Hmmmmm…berasa di Argentina. :-);-)

Hari ketiga di Amsterdam kita ke Keukenhof. Ini “gong” nya tur Amsterdam kita. Kebetulan kita sudah membeli tiket terusan (combo ticket) waktu kita tiba di Schipol. Dari hotel kita naik bus ke Schipol terus naik bus lagi ke Lisse. Nah pas naik bus ke Lisse ini, kita uda kaya naik bus dari Cililitan ke Tanjung Priuk, berdiri coyyy…untung gw uda terlatih niy sama yg beginian. Di samping antreannya panjang untuk bisa dapat tempat duduk, tersedia juga tempat untuk berdiri. 30 menit tak terasa deh berdiri karena hasrat untuk melihat Keukeunhof sudah terlanjur tinggi dan sudah menari-nari di pikiran gw.
Sampai Keukeunhof sudah lumayan rame dan untungnya panas terik jadi makin bersemangat deh. Kita uda bawa bekal makan siang di Albert Heijn supermarked yang ada di Schipol, jadi kalau lapar langsung deh cari-cari tempat duduk, kalau begini jadi keinget bawa tikar. Hehehe…
Setelah puas melihat-lihat sampai sedikit mual karena saking banyaknya tulip dan mata gw jadi berwarna warni, selonjoran deh kita di taman sambil liat burung merak. Suami gw terkagum-kagum liat burung merak untuk pertama kalinya, kalau gw sudah pernah liat jadi menurut gw biasa aja.
Saat kita sedang bersantai ria, nah kepikiran deh kita sama yang namanya tongsis. Hampir 50% pengunjung Keukenhof membawa si tongkat ajaib ini. Terlintas juga penyesalan dalam diri gw, kenapa gw kagak ikut-ikutan beli tongsis. Spontan suami gw bilang apa kita beli aja si tongsis ini di Albert Cuypmarket?wkwkwkwkw…

Sore hari setelah kita dari Keukenhof jalan-jalan lah kita ke sentrum atau Dam Square. Kebetulan hari itu adalah “Liberation Day” ruameee banget sampai kita gak bisa jalan nyelip-nyelip karena kepingin makan di Aneka Rasa yang ada di Warmoestraat. Ahirnya setelah bisa lolos dari uyel-uyelan tibalah kita di rumah makan indonesia. Mbak dan mas nya ramah banget, dan pesanan kita cepet sampainya. Waktu itu kita pesan “Ricetable Aneka” isinya nasi putih dan nasi kuning serta lauk pauk yang beraneka macam. Enak dan kenyang!

Tak terasa sudah hari terakhir kita di Amsterdam niy dan kita memutuskan untuk bermuseum ria. Pertama kita ke Rijksmuseum, Van Gogh dan Anne Frank Huset. Perjalanan kita ditutup dengan makan pannekaker yang ada di depan Heineken. Kemudian ke hotel dan bersiap-siap untuk kembali ke Oslo.

This entry was posted on June 3, 2015. 2 Comments