Liburan musim panas di Norwegia

Musim panas tahun ini adalah musim panas pertama gw di Oslo. Namanya musim panas seharusnya ya panas gitu yah, tapi nyatanya sering juga hujan mendadak dan petir pula. Panas matahari di sini hampir sama dengan panasnya Jakarta, jadi saat musim panas inilah banyak sekali orang memanfaatkan berjemur, piknik termasuk gw yang rajin berjemur dan piknik. Karena cuaca yang tidak menentu di saat musim panas inilah banyak orang sini yang berlibur ke Syden (Pertama kali gw bingung apa siy yg dimaksud Syden itu, gw cari di Google eh ga nemu yg pas, ternyata eh ternyata berlibur ke Syden itu misalnya berlibur ke Spanyol, Portugal, Turki, Yunani, dll dimana panas mataharinya benar2 top markotop dan untuk tiket dan hotel tidaklah mahal, gak heran di Spanyol saat musim panas mayoritas turisnya hampir 80% adalah org Norway, begitu jg di Yunani/Hellas dan Tyrkia/Turki ; ini menurut cerita suami dan gw baca di salah satu koran lokal sini, karena gw belum pernah ke Syden jg).

Tetapi karena gw masih baru di sini, jadi liburan musim panas kali ini sangatlah cocok bagi gw untuk mengenal Norway lebih jauh lg. Dan lebih mantap lagi dengan tur keliling pake mobil. Jadi bisa melihat keindahan alam Norway secara langsung. Dimana Norway mendapat julukan Mother of nature. Dan ini terbukti, keindahan alamnya sungguh sangat luar biasa sampai di setiap sudut perjalanan kami tak henti-hentinya berdecak kagum.
Selain keluar dari rutinitas kehidupan di sentrum (Oslo) yg cenderung hiruk pikuk, jalan-jalan ke luar Oslo sangatlah menarik.

1. Heddal Stavkyrkje atau Heddal Stavechurch

Heddal Stavechurch ini terletak di Notodden dan stavechurch terbesar di Norway dimana dibangun pada tahun 1250 dan sering disebut juga “a wooden cathedral”. Banyak juga yang menikah di gereja tersebut saat musim panas. Karena selain model bangunannya sangatlah unik dan bersejarah.
Di sini kita juga bisa menikmati secangkir kopi hitam dan sepotong kue apel di Kafe Olea setelah berkeliling dan melihat-lihat nisan-nisan jaman dulu. Karena di Norway mayoritas gereja bersebelahan dengan makam.
Untuk lebih jelasnya tentang sejarah Stavechurch bisa dilihat di website: http://www.heddalstavkyrkje.no

stavechurch 1

kafe olea

2. Preikestolen/Prekestolen atau The Pulpit Rock

Tujuan utama liburan musim panas kali ini adalah menjajal hiking ke Preikestolen, yang menjadi salah satu list di agenda para turis saat mereka berkunjung ke Stavanger (not to be missed in Norway).

Dari awal masuk musim panas sudah melatih diri untuk jogging minimal 1 jam dan selanjutnya bertahap menjadi 2 jam dan seterusnya. Hal ini untuk melatih diri supaya nantinya kuat hiking ke Preikestolen. Hiking ke Preikestolen termasuk dalam kategori mudah, tidak diperlukan persiapan yang benar-benar matang. Karena jarak tempuh yang tidak terlalu jauh (untuk sekali jalan adalah sekitar 2 jam, naik dan turun menjadi kurang lebih 4 jam). Bahkan anak kecil dan manula pun bisa ikut serta hiking ke Preikestolen.

Sebelum berangkat liburan, gw sudah me-request brosur wisata untuk area Stavanger yang bisa diminta di http://www.regionstavanger.com sebenarnya bisa juga dilihat di website cuma kalau dalam bentuk brosur dilengkapi peta yang nantinya sangat dibutuhkan saat dalam perjalanan (beberapa wilayah selama perjalanan terkadang sinyal internet sedikit terganggu, jadi apa salahnya membawa peta manual).

Untuk menikmati keindahan Preikestolen bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu hiking singkat dari Preikestolen Fjelsstua dan sight seeing (kombinasi hiking, bus dan cruise), kalau ga salah namanya Hurtigbåt atau Columbus (www.kolumbus.no) yang harganya lumayan mahal.
Fasilitas yang ada di Preikestolen sangatlah lengkap mulai dari papan petunjuk sampai dengan informasi ketinggian saat kita sudah berada di titik pendakian tertentu.

Perjalanan dari Notodden ke Jørpeland diselingi rintik hujan. Ada sedikit rasa khawatir bagaimana kalau besok pagi masih tetap hujan dan awan mendung menyelimuti, tentunya acara hiking kurang menarik selain jalanan menjadi licin dan kita tidak bisa melihat keindahan alam dari tebing atau plateu. Dimana Preikestolen adalah tempat favorit para turis mengabadikan momen tersebut dalam sebuah foto narsis. Siapa siy yang ga pingin tidur tengkurap atau berdiri di puncak Preikestolen dengan background Fjord dengan air yang biru, dramatis dan memacu adrenalin (karena lumayan deg-degan juga loh dan membuat lutut lemas). Ketinggian dari tebing atau plateu adalah 604meter di atas permukaan fjord. Bisa dibayangkan kalau kita terpeleset dan terjun bebas dari puncak tebing. Keselamatan ditanggung masing-masing yah karena kalau tergelincir bisa-bisa pulang tinggal membawa nama saja atau say good bye.
Dulu gw pernah baca ada yang pernah bunuh diri dengan cara menceburkan ke fjord dari puncak tebing. Gila kali yahhh….

Kebetulan saat gw hiking cuacanya sangatlah bagus meskipun sekitar jam 7 pagi hujan rintik-rintik dan setelah jam 9 pagi matahari muncul dan langit menjadi berwana biru cerah sampai kita turun dari Preikestolen. Hal ini sangat dimanfaatkan bagi turis lain untuk berbondong-bondong hiking. Sangat disayangkan beberapa dari mereka tidak menghiraukan keselamatan diri sendiri. Ada yang memakai sepatu boot yg bukan untuk hiking, sepatu fantopel (atau lebih mirip selop yang datar), yang lebih ekstrem sandal jepit atau flip flop. Padahal sudah diinformasikan di papan pengumuman saat pertama kali orang-orang memulai pendakian.

Sesampai di tebing datar atau plateu yang agak menjorok ke tengah terdapat formasi batu dengan ukuran kurang lebih 25 x 25 meter tempat orang-orang duduk santai sambil menikmati udara segar dan pemandangan birunya air di bawah sana serta sesekali cruise ship yang lewat. Istirahat sejenak minum kopi / secangkir coklat panas dari thermos atau makan coklat maupun sandwich yang di bawa sebagai bekal. Hmmmm…hari itu sungguh sangat luar biasa, menyegarkan fisik dan menyejukkan jiwa.

preikestolen1

preikestolen3

preikestolen2

preikestolen 2

Ohya, sebagai referensi Preikestolen Fjellstue gw rekomendasikan bagi teman-teman yang hendak ke Preikestolen. Selain view nya bagus, juga sangat strategis. Karena tempat ini sebagai titik terakhir atau dikatakan terminal bus atau mobil dari arah Stavanger ataupun Bergen dan titik awal pendakian.
Untuk biaya menginap sedikit lumayan mahal. Waktu itu kami memilih tempat tidur susun dengan kamar yang sempit, serta kamar mandi berbagi dengan penghuni camping plass tersebut. untuk 2 hari menginap di Preikestolen Fjellstua adalah nok 1850 sudah termasuk biaya parkir dan sarapan pagi untuk 2 orang. Mereka juga mempunyai kamar yang lebih luas tetapi harganya lebih mahal 🙂 🙂

3. Lysebotn

Kalau di utara Lysefjord terdapat Preikestolen, di sebelah selatannya terdapat Kjeragbolten. Tadinya kita mau naik Hurtigbåt atau Columbus dari Forsand ke Lysebotn untuk mempercepat perjalanan sekaligus supaya bisa melihat Kjerag dari atas kapal cepat/båt. Salah satu yang menjadi idaman para pendaki yang mempunyai adrenalin tinggi dan tidak menderita vertigo adalah berdiri di tengah-tengah batu gantung yang dibawahnya blong atau langsung menyentuh permukaan Lysefjord.
Di Kjerag terdapat batu yang terjepit di antara dua tebing tinggi. Ketinggian Kjeragbolten adalah 989meter dari permukaan Lysefjord. Bisa dibayangkan, apabila sudah sampai di atas tebing tersebut.
Karena kita terlambat booking båt tersebut dan kita tidak ingat kalau saat ini adalah high season dimana banyak turis yang ingin melihat secara langsung Preikestolen dan Kjerag dari dekat, sudah dipastikan kita tidak kebagian tiket dan ahirnya harus rela menempuh perjalanan yang lumayan lama sekitar 3,5 jam dari Jørpeland atau Preikestolen Fjellstua menuju Lysebotn.

Tetapi masih ada untungnya niy (kalau kata orang jawa, untungnya…). Kita bisa melewati Lysevegen road yang pertama kali dibuka tahun 1983 dimana jalan tersebut dibuat sebagai “a work roads” selama pembangunan power plant terkenal Tjodan hydroelectric. Kita juga melewati 27 hairpin bends (jalanan yang berliku-liku seperti obat nyamuk) yang sungguh sangat mendebarkan, selain jalananya lebih sempit dan berkabut serta hujan lumayan deras. Sehingga berkali-kali kita harus bergantian berhenti di sisi jalan saat mobil dari lawan arah melaju, apalagi kalau yang lewat mobil karavan yang lumayan lebar. Namun demikian masing-masing saling menghargai dan memberi sinyal saat hendak melaju, sehingga mobil tidak tergelincir ke jurang yang cukup dalam.
Lysevegen road hanya dibuka saat musim panas kurang lebih mulai dari bulan Mei s/d Oktober atau November.

Ahirnya sampai juga di Øygardstøl panorama restaurant atau Kjerag Restaurant yang terletak di ketinggian 640 meter. Di sini kita bisa berhenti sejenak untuk minum kopi sambil menikmati pemandangan Kjerag yang bisa kita lihat dari kejauhan dari dalam restaurant. Hanya pengunjung restaurant yang diperbolehkan masuk dan mengambil foto. Kjerag Restaurant juga menjadi titik awal pendakian.

kjerag1

kjerag2

kjerag3

Perjalanan dilanjutkan kurang lebih 20 menit dari Kjerag Restaurant menuju Lysebotn Hauane bed & breakfast, tempat dimana kita akan menginap selama satu malam. Bagi yang hendak ke Lysebotn diwajibkan membawa bekal makanan atau lain-lain yang dibutuhkan karena di Lysebotn tidak ada matbutikk (Coop, Kiwi, dll). Konon kata Kjell si pemilik Hauane tersebut, penduduk setempat memesan makanan dari Forsand dan akan diantar secara kolektiv ke Lysebotn Terminal Ferry. Termasuk juga Posten (apabila kita hendak mengirim dan menerima surat atau paket). Hmmmm….Kalau menurut gw, Lysebotn sangatlah cocok untuk beristirahat sejenak atau lari dari rutinitas pekerjaan ataupun hingar bingar kota.

Hauane Bed and Breakfast sangat direkomendasikan untuk tempat bermalam. Pemilik rumah sangat ramah dan dia menyediakan sarapan pagi ala Norway yang semuanya serba homemade. Di dalam rumah tersebut terdapat benda-benda dari jaman Kjell masih muda, yang tentunya sangat bersejarah dan benar-benar autentik. Kita berasa tinggal di rumah tua ala Norway lengkap dengan perapian beserta alas kursi terbuat dari kulit asli lembu liar. Tak ketinggalan pula terdapat sauna, tetapi untuk bisa menikmati sauna tersebut, kita harus membayar ekstra. Kamar mandi baru direnovasi dan sangat amat nyaman (terdapat 4 kamar mandi yang berada di luar rumah, Kjell juga mempunyai empat kamar kosong untuk disewakan. Ke empat kamar tersebut menjadi satu dengan rumah utama). Si pemilik rumah membuat sedemikian nyaman suasana lingkungan sekitar tempat tinggal, sehingga kita betah untuk tinggal di situ, maklum jauh dari pusat kota juga.

Di sekitar rumah terdapat gård atau peternakan kecil beserta lembu-lembu yang montok. Dan juga seekor anjing jantan yang bernama Leo, yang akan dengan setia menemani kita menikmati alam sekitar Lysebotn. Leo sudah terlatih dan faham betul wilayah-wilayah sekitar sehingga dia bisa menjadi tur guide kita. Sayangnya si kuda jantan yang bernama Thorvald sudah tidak berada di situ lg karena Kjell tidak punya waktu untuk mengurus Thorvald sehingga dengan terpaksa dia harus mengirimkan Thorvald ke tempat pemeliharaan kuda di Forsand.

lysebotn1

lysebotn2

Lysebotn3

Perjalanan selanjutnya adalah Flekkefjord, Åmli dan Trondheim yang akan gw bahas di lain waktu. (Bersambung)

Advertisements

3 thoughts on “Liburan musim panas di Norwegia

  1. Yoa fell….seperti yang kita bicarakan kemarin, semoga mendaki Beseggen bakal terwujud. amin. God tur til dere yah! Selamat berlibur dan update blog 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s