Archive | April 2014

Språk kafe

Kalau kita mendengar kata “Kafe” yang ada di pikiran kita ya ngopi-ngopi, ngeteh (kalau yg ini kayanya kurang umum di indo pergi ke kafe utk minum teh, banyakan minum kopi dan minum yang lain-lain), sosialisasi (bertemu dengan teman dekat atau untuk mencari teman-teman baru), bertukar pikiran dan pengetahuan. Ini sudah yang kelima kalinya gw dateng ke “språk kafe” yg diselenggarakan oleh Deichmanske bibliotek. Awalnya males banget pergi kesana apa siy itu språk kafe, ngapain aja di sana, trus ada siapa saja di sana. Setelah salah satu teman sekolah gw dari Rusia cerita tentang dia banyak belajar dari språk kafe ini, sekarang dia bisa dikit-dikit ngobrol pake norsk dan topik yg dibahas juga “benar-benar norsk banget” alias hal-hal yg memang ada di Norway yang memang informasinya kita butuhkan banget. Terutama bagi imigran yang tidak tinggal seatap bersama norskmenn (misal satu keluarga memang tidak ada org Norway nya), mereka sangat membutuhkan komunikasi dalam bahasa norsk, karena nantinya mereka akan bersosialisai tidak hanya dengan teman atau kerabat dari sesama negara asal ataupun dari negara-negara yang berbahasa sama. 

Seperti halnya kafe, di sana kita membahas tentang kehidupan sehari-hari ala Norway. Misalnya sebelum Påske / Paskah minggu kemarin kita membahas tentang Påske feirie di Norway. Apa siy yang kita lakukan di hari paskah tersebut terlepas dari urusan religius (oh ya kita libur panjang kalau paskah di sini), tradisi apa saja di hari paskah tersebut. Hari ini kita membahas tentang “Dognad” atau dalam bhs indonesianya “kerja bakti” ala Norway di mana pada saat masuk musim semi kita bersama-sama membersihkan daerah sekitar tempat tinggal kita yang di koordinir oleh panitia di mana kita tinggal. 

Yang asiknya di språk kafe ini disediakan susu, kopi, teh dan snack gratis (boller, nøtter, coklat, biskuit serta buah-buahan). Peserta språk kafe datang dari beraneka ragam bahasa dan warna kulit, tetapi tetap dalam satu meja harus ada minimal 1 orang Norway. Kita duduk berlima dalam satu meja kotak. Dalam satu meja tersebut tidak boleh ada peserta dari satu negara atau satu asal muasal. Hal ini untuk menghindari kita berbicara bahasa ibu atau bahasa dari negara kita berasal. Jadi kita duduk bersama dan hanya menggunakan bahasa norsk saja. Meskipun kita belum lancar berbicara, kita pede aja ngobrol sebisa mungkin. 

Dan dari språk kafe ini, gw banyak kenal teman-teman baru dari berbagai negara. Yang buat gw terkejut adalah sebagian dari mereka adalah imigran yg belajar bahasa norsk otodidak alias tidak pergi ke sekolah bahasa atau tidak mengikuti les privat. Let´s say untuk conversation informal mereka paham dan bisa bicara tetapi dari segi gramatikk mereka banyak kesalahan. Tapi gw tetep acungin jempol untuk mereka yang sanggup belajar otodidak di rumah, dan sudah beberapa yg lulus norskprøve 1 dan 2 (meskipun di test “menulis” banyak dari mereka yang gagal, karena kesalahan dlm gramatikk. NOTE: Norsk gramatikk itu TIDAK gampang!!! hehehe…) Imigran-imigran seperti inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh Norway, yang mau dan mampu berintegrasi dan bekerja di bidangnya masing-masing. Bukan imigran yang datang dan hanya membuat sampah negara. 

Image

 

This entry was posted on April 24, 2014. 2 Comments